Senin, 25 Februari 2019

IMAM - MASJID

   Kata IMAM dalam bayangan pikiran umum berarti pemimpin yang dapat dianut yang bertempat di derajat yang mulia.
Berangkat dari "dapat dianut" orang pada umumnya ingin punya banyak pengikut, dan dari "derajat yang mulia" mereka berlomba mendudukinya, dan umumnya ingin mendapatkannya tanpa melirik tanggung jawab dipundak dan apa resikonya.

IMAM RAWATIB
   Seyogyanya bagi yang mendapat mandat imam shalat rawatib untuk selalu update (menambah) pengetahuan, tidak (hanya) berbangga dengan apa yang ada pada dirinya saat ini. Update ilmu tauhidnya, ilmu fiqihnya (khususnya untuk shalat yang meliputi sesuci, wudlu, mandi besar dan sah batalnya shalat), ilmu bacaannya, dll ilmu yang bersinggungan dengan tanggungjawabnya, karena dapat terjadi timbulnya fitnah yang beranjak (bersumber) dari sikap dirinya. Seperti bila si imam yang kurang menguasai ilmu bacaan (bacaan juga bisa jadi penilai batal sahnya shalat (khususnya shalat jamaah)) atau kurang di dalam ilmu sah dan batalnya shalat, yang dapat menyebabkan adanya jamaah yang tidak bisa ikut bermakmum. Dan bila keadaan seperti terjadi maka akan timbul fitnah bagi/ pada orang lain, yang kadang orang lain itu dianggap sombong, angkuh, merasa paling 'alim, yang padahal fitnah tersebut timbul dari sikap si pemimpin. Seyogyanya si imam bersedia klarifikasi / bertanya pada jamaah bersangkutan, itu tanggung jawabnya sehingga fitnah bisa terbuang. Bila si imam sudah klarifikasi (untuk mengetahui penyebab) dan si jamaah tetap tidak bisa ikut shalat jamaah (bisa entah karena belum sefaham) ya sudah itu jadi tanggung jawabnya si jamaah, tetapi umumnya tidak ada klarifikasi dan langsung dihukumi (yang menyebabkan timbulnya fitnah, banyak masukan cerita seperti ini yang sangat disayangkan)

MASJID
   Di era sekarang ini kita melihat di sana sini banyak sekali kita melihat masjid - mushalla dipogar dan dibangun lebih megah, tetapi terkadang pembangunan pribadi manusianya terlupakan. Seiring pembangunan tempat ibadah seyogyanya juga dibarengi dengan pembangunan penghuninya.
Dan sebaiknya juga dalam membangun tempat ibadah jangan sampai menimbulkan rasa risih (sungkan) pada orang lain yang ingin mampir / singgah untuk beribadah di dalamnya, baik dari segi bentuk maupun aturannya, sehingga orang lain dapat merasa nyaman di dalamnya, karena terkadang kita menemui yang seperti itu sehingga kita merasa kurang nyaman, sepertinya itu kurang baik, dan sebaiknya tempat ibadah itu diberi serambi yang nyaman.